Jurnal Kesehatan Lentera 'Aisyiyah https://jurnal.politasumbar.ac.id/index.php/jl <p>Jurnal Kesehatan Lentera 'Aisyiyah menerbitkan artikel dalam bidang kesehatan yang dikelola langsung oleh BPPM Politeknik 'Aisyiyah Sumatera Barat. Jurnal ini terbit 2 kali dalam 1 tahun yaitu terbit dibulan Juni dan Desember.</p> <p>Jurnal Kesehatan Lentera 'Aisyiyah Terakreditasi <strong>Sinta 4</strong> berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Sains Dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, Dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 355/DST/D.D1/HM.01.01/2026 Tentang Peringkat Akreditasi Baru Jurnal Ilmiah Periode 3 Tahun 2025.</p> BPPM Politeknik 'Aisyiyah Sumatera Barat en-US Jurnal Kesehatan Lentera 'Aisyiyah 2654-8445 EVALUASI PRAKTIK DISPENSING ANTIBIOTIK PADA PERMINTAAN TANPA RESEP DI APOTEK KOMUNITAS MENGGUNAKAN METODE SIMULATED PATIENT https://jurnal.politasumbar.ac.id/index.php/jl/article/view/281 <p>Penjualan antibiotik tanpa resep dokter merupakan salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap meningkatnya resistensi antimikroba, terutama di negara berpendapatan rendah dan menengah, termasuk Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proporsi, pola, dan kelengkapan praktik penyerahan antibiotik tanpa resep dokter di apotek komunitas Kota Batam serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mendorong praktik tersebut berdasarkan perspektif tenaga kefarmasian. Studi observasional dengan desain potong lintang (cross-sectional) dilakukan pada Maret–Mei 2026 menggunakan metode simulated patient di 74 apotek komunitas berizin yang dipilih melalui systematic random sampling. Skenario yang digunakan berupa permintaan langsung amoksisilin untuk keluhan infeksi saluran pernapasan akut. Data dianalisis secara deskriptif, sedangkan hubungan antarvariabel diuji menggunakan uji chi-square. Dari 74 apotek yang dikunjungi, 33 apotek (44,6%) menyerahkan antibiotik tanpa resep dokter. Amoksisilin kapsul merupakan antibiotik yang paling sering didispensasikan, diikuti oleh sefadroksil kapsul dan sirup, sefiksim 100 mg kapsul, siprofloksasin 500 mg tablet, serta azitromisin 500 mg tablet. Konseling mengenai aturan pakai diberikan pada 81,8% kasus, namun informasi mengenai durasi pengobatan lengkap (27,3%), efek samping (12,1%), dan risiko resistensi antimikroba (6,1%) masih sangat jarang disampaikan. Berdasarkan perspektif tenaga kefarmasian, faktor utama yang mendorong praktik tersebut meliputi permintaan pasien yang persisten, persaingan antar apotek, target finansial pemilik apotek, serta lemahnya penegakan regulasi. Penyerahan antibiotik tanpa resep dokter masih menjadi praktik yang umum di apotek komunitas Kota Batam dan disertai dengan kualitas konseling yang belum memadai.</p> Aldhehita Ari Kusumawati FIFIN OKTAVIANI Lita Riastienanda Putri Copyright (c) 2026 Jurnal Kesehatan Lentera 'Aisyiyah 2026-09-30 2026-09-30 9 1 10.58170/jkla.v9i1.281 DAMPAK IMPLEMENTASI SIMRS TERHADAP WAKTU TUNGGU DAN KEPUASAN PASIEN PADA PELAYANAN RESEP RACIKAN DAN NON-RACIKAN DI RS X KEPULAUAN RIAU https://jurnal.politasumbar.ac.id/index.php/jl/article/view/282 <p>Waktu tunggu dan kepuasan pasien merupakan indikator mutu utama pelayanan kefarmasian rumah sakit, khususnya pada resep racikan dan non-racikan. Integrasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) diharapkan dapat mempersingkat waktu tunggu dan meningkatkan kepuasan pasien. Tujuan penelitian untuk menganalisis dampak implementasi SIMRS terhadap waktu tunggu pelayanan resep dan kepuasan pasien di Instalasi Farmasi Rawat Jalan RS X Kepulauan Riau. Metode penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan rancangan before-after non-ekuivalen melibatkan 140 resep rawat jalan (100 non-racikan, 40 racikan) yang dibagi menjadi kelompok sebelum dan sesudah implementasi SIMRS. Waktu tunggu diukur sejak resep diserahkan hingga obat diterima pasien, sedangkan kepuasan pasien dinilai menggunakan kuesioner SERVQUAL tervalidasi pada lima dimensi. Data dianalisis menggunakan uji t independen/Mann-Whitney U dan uji Chi-square (α=0,05). Hasil penelitian rerata waktu tunggu resep non-racikan menurun dari 42,5±12,3 menjadi 24,8±8,1 menit, dan resep racikan dari 68,4±15,6 menjadi 41,2±11,4 menit setelah implementasi SIMRS (p&lt;0,001). Skor kepuasan SERVQUAL keseluruhan meningkat dari 3,09 menjadi 4,13 (p&lt;0,001), dengan peningkatan tertinggi pada dimensi daya tanggap. Implementasi SIMRS secara signifikan menurunkan waktu tunggu pelayanan resep dan meningkatkan kepuasan pasien, baik pada pelayanan resep racikan maupun non-racikan. transletkan ke bahasa inggris dengan grammar yang baik</p> Lita Riastienanda Putri FIFIN OKTAVIANI Hidayati Copyright (c) 2026 Jurnal Kesehatan Lentera 'Aisyiyah 2026-09-30 2026-09-30 9 1 11 17 10.58170/jkla.v9i1.282 HUBUNGAN LAMA PENGOBATAN DENGAN TINGKAT STRES PADA PENDERITA TB PARU DI PUSKESMAS LUBUK BUAYA KOTA PADANG TAHUN 2026 https://jurnal.politasumbar.ac.id/index.php/jl/article/view/274 <p>Pengobatan Tuberkulosis (TB) Paru yang membutuhkan waktu minimal 6 bulan berpotensi <br />memicu kejenuhan, efek samping obat, dan tekanan emosional yang berdampak pada stres penderita. <br />Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional ini bertujuan mengetahui hubungan antara <br />lama pengobatan dengan tingkat stres pada penderita TB Paru di Puskesmas Lubuk Buaya Kota <br />Padang Tahun 2025. Menggunakan teknik total sampling, diperoleh sampel sebanyak 40 responden. <br />Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner modifikasi untuk variabel lama pengobatan dan <br />kuesioner Depression Anxiety Stress Scale (DASS) untuk mengukur tingkat stres, yang kemudian <br />dianalisis menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar <br />responden berada pada tahap pengobatan lanjutan (3–6 bulan) yaitu sebanyak 57,5% (23 orang) dan <br />tingkat stres responden mayoritas berada dalam kategori sedang sebesar 42,5% (17 orang). Hasil <br />analisis bivariat menunjukkan nilai p-value 0,203 (&gt; 0,05), yang berarti tidak terdapat hubungan yang <br />bermakna antara lama pengobatan dengan tingkat stres pada penderita TB Paru di wilayah tersebut. <br />Berdasarkan hasil ini, disarankan kepada petugas kesehatan di Poli TB untuk tidak hanya memeriksa <br />kondisi fisik dan kepatuhan minum obat pasien saja, tetapi juga mulai memperhatikan serta melakukan <br />skrining berkala terhadap kondisi psikologis pasien.</p> Intan permata sari Nova Rita Copyright (c) 2026 Jurnal Kesehatan Lentera 'Aisyiyah 2026-09-30 2026-09-30 9 1 18 22 10.58170/jkla.v9i1.274 HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA REMAJA PUTRI DI SMKN 2 KOTA PADANG TAHUN 2026 https://jurnal.politasumbar.ac.id/index.php/jl/article/view/279 <p>Anemia (kadar Hb &lt; 12 g/dL) merupakan masalah global pada remaja putri termasuk di Kota<br />Padang. Berdasarkan data Puskesmas Andalas tahun 2024, SMKN 2 Padang memiliki kasus tertinggi<br />(41,99%). Siswi sekolah kejuruan memiliki beban aktivitas fisik yang tinggi karena adanya kegiatan<br />praktik, yang berpotensi memengaruhi kualitas tidur serta memicu risiko kejadian anemia. Penelitian ini<br />bertujuan untuk mengetahui hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian anemia pada remaja putri<br />di SMKN 2 Kota Padang Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain<br />cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 86 responden yang dipilih secara stratified random sampling.<br />Data aktivitas fisik dikumpulkan melalui kuesioner PAQ-A, serta pemeriksaan kadar hemoglobin<br />menggunakan alat digital Easy Touch. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat<br />menggunakan uji Chi-Square. Hasil analisis univariat menunjukkan mayoritas responden mengalami<br />anemia (62,8%) dan memiliki aktivitas fisik ringan (90,7%). Hasil uji bivariat menunjukkan tidak<br />terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan kejadian anemia (p= 1,000). Diharapkan<br />pihak sekolah dapat memberikan penyuluhan atau skrining kesehatan berkala mengenai anemia,<br />menggalakkan program olahraga atau aktivitas fisik yang terjadwal bagi siswi demi mempersiapkan<br />generasi penerus bangsa yang sehat.</p> Ranna Elfa Audini Meta Rikandi Copyright (c) 2026 Jurnal Kesehatan Lentera 'Aisyiyah 2026-09-30 2026-09-30 9 1 23 29 10.58170/jkla.v9i1.279 HUBUNGAN POLA MAKAN DAN STRES DENGAN GEJALA GASTRITIS PADA REMAJA DI SMAN 1 BANUHAMPU https://jurnal.politasumbar.ac.id/index.php/jl/article/view/276 <p>Gastritis merupakan peradangan pada lambung yang disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya pola<br />makan tidak teratur dan stres. Remaja merupakan kelompok yang rentan mengalami gastritis karena<br />sering menunda waktu makan akibat kesibukan sekolah, mengonsumsi makanan instan, serta<br />menghadapi tekanan akademik dan masalah pribadi. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan pola<br />makan dan stres dengan kejadian gastritis pada remaja di SMAN 1 Banuhampu. Penelitian<br />menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian<br />berjumlah 811 siswa SMAN 1 Banuhampu. Teknik pengambilan sampel menggunakan stratified<br />proportional random sampling dengan jumlah sampel 270 siswa. Pengumpulan data dilakukan pada 13<br />Februari 2026 menggunakan kuesioner. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji<br />Spearman Rank. Hasil analisis univariat menunjukkan 55,6% responden memiliki pola makan tidak<br />baik, 33,3% mengalami stres berat, dan 72,2% mengalami gastritis. Analisis bivariat menunjukkan<br />terdapat hubungan bermakna antara pola makan dengan kejadian gastritis (p = 0,000) dan stres dengan<br />kejadian gastritis (p = 0,000). Disimpulkan terdapat hubungan signifikan antara pola makan dan stres<br />dengan kejadian gastritis pada remaja di SMAN 1 Banuhampu. Sekolah diharapkan memberikan<br />edukasi gizi seimbang, pencegahan gastritis, serta program pengelolaan stres bagi siswa.</p> Asri Safitri Wisnatul Izzati Silvia Intan Suri Copyright (c) 2026 Jurnal Kesehatan Lentera 'Aisyiyah 2026-09-30 2026-09-30 9 1 30 36 10.58170/jkla.v9i1.276 GAMBARAN UPAYA PENCEGAHAN ANEMIA PADA REMAJA PUTRI DI PANTI ASUHAN ‘AISYIYAH KOTO TANGAH DAN TIMUR PADANG https://jurnal.politasumbar.ac.id/index.php/jl/article/view/293 <p>Upaya pencegahan anemia adalah langkah untuk menghindari kondisi kurang darah. Hasil survey awal <br />peneliti didapatkan dari 5 orang remaja putri di Panti Asuhan Aisyiyah Cabang Koto Tangah, dimana 3 <br />orang remaja putri tidak meminum tablet tambah darah sesuai anjuran. Tujuan penelitian ini adalah <br />untuk mengetahui gambaran upaya pencegahan anemia pada remaja putri di Panti Asuhan Aisyiyah <br />Cabang Koto Tangah dan Koto Tangah Timur Tahun 2026. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik. <br />Penelitian dilakukan pada tanggal 18 April-3 Mei 2026. Sampel penelitian ini adalah remaja putri di <br />Panti Asuhan Aisyiyah Cabang Koto Tangah dan Koto Tangah Timur yang berjumlah sebanyak 53 <br />responden dengan menggunakan teknik total sampling. Analisis data yang digunakan adalah analisis <br />univariat. Hasil penelitian menunjukkan upaya pencegahan anemia pada remaja putri di Panti Asuhan <br />Aisyiyah Cabang Koto Tangah dengan kategori kurang sebanyak 29 orang remaja putri (82,9%) dan <br />cukup sebanyak 6 orang remaja putri (17,1%) serta di Panti Asuhan Aisyiyah Cabang Koto Tangah <br />Timur dengan kategori kurang sebanyak 15 orang remaja putri (83,3%) dan cukup sebanyak 3 orang <br />(16,7%). Diharapkan bagi pengurus Panti Asuhan Aisyiyah Cabang Koto Tangah dan Koto Tangah <br />Timur agar selalu memastikan seluruh remaja putri meminum tablet tambah darah.</p> Sania dinata Meta Rikandi Copyright (c) 2026 Jurnal Kesehatan Lentera 'Aisyiyah 2026-09-30 2026-09-30 9 1 37 40 10.58170/jkla.v9i1.293 HUBUNGAN DUKUNGAN ORANG TUA DENGAN KEPATUHAN KONSUMSI TABLET TAMBAH DARAH (TTD) PADA REMAJA PUTRI DI SMKN 2 KOTA PADANG TAHUN 2026 https://jurnal.politasumbar.ac.id/index.php/jl/article/view/292 <p>Kepatuhan konsumsi TTD dengan dukungan orang tua adalah peran aktif keluarga dalam <br />mengingatkan, memotivasi, dan menyediakan TTD bagi remaja putri. Survei awal pada 10 remaja <br />putri di SMKN 2 Kota Padang menunjukkan 7 di antaranya tidak patuh mengonsumsi TTD. Tujuan <br />penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kepatuhan konsumsi TTD dengan dukungan orang <br />tua pada remaja putri di SMKN 2 Kota Padang Tahun 2026. Jenis penelitian ini adalah deskriptif <br />analitik. Penelitian dilakukan pada tanggal 27 April-6 Mei 2026. Sampel penelitian ini adalah siswi <br />kelas X dan XI SMKN 2 Kota Padang yang berjumlah sebanyak 86 responden dengan menggunakan <br />teknik stratified random sampling. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat dan bivariat. <br />Hasil penelitian menunjukkan kepatuhan konsumsi TTD pada remaja putri dengan kategori patuh <br />sebanyak 68 (79,1%) dan tidak patuh sebanyak 18 (20,9%), dukungan orang tua terhadap konsumsi <br />TTD dengan kategori mendukung sebanyak 69 (80,2%) dan tidak mendukung sebanyak 17 (19,8%), <br />serta terdapat hubungan antara kepatuhan konsumsi TTD dengan dukungan orang tua pada remaja <br />putri (p-value = 0,001). Diharapkan bagi SMKN 2 Kota Padang agar memberikan edukasi kepada <br />remaja putri tentang pentingnya konsumsi tablet tambah darah dan makanan sumber zat besi untuk <br />pencegahan anemia.</p> Aan Gianda Putra Meta Rikandi Copyright (c) 2026 Jurnal Kesehatan Lentera 'Aisyiyah 2026-09-30 2026-09-30 9 1 41 47 10.58170/jkla.v9i1.292 GAMBARAN PENGETAHUAN DENGAN SIKAP LANSIA DALAM MENGATASI NYERI ARTRITIS REUMATOID DI PSTW SABAI NAN ALUIH SICINCIN https://jurnal.politasumbar.ac.id/index.php/jl/article/view/285 <p>Artritis Reumatoid adalah penyakit autoimun kronis yang dapat menyebabkan nyeri sendi <br />berkepanjangan dan membatasi aktivitas lansia. Sikap lansia dalam mengelola nyeri sangat <br />dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan <br />antara pengetahuan dan sikap lansia dalam mengelola nyeri Artritis Reumatoid di Panti Sosial Tresna <br />Werdha Sabai Nan Aluih Sicincin. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain <br />potong lintang. Sampel terdiri dari 58 lansia yang dipilih menggunakan teknik total sampling. <br />Instrumen yang digunakan adalah kuesioner pengetahuan dan sikap. Data dianalisis menggunakan uji <br />Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan <br />rendah (34,5%) dan sikap baik (39,7%). Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang <br />signifikan antara tingkat pengetahuan dan sikap lansia dalam mengelola nyeri Artritis Reumatoid (p &lt; <br />0,05). Studi ini menyimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan, semakin positif sikap lansia <br />dalam mengelola nyeri Artritis Rheumatoid. Disarankan agar program edukasi kesehatan dilakukan <br />untuk meningkatkan pemahaman lansia tentang strategi manajemen nyeri yang tepat. Kata kunci: <br />Pengetahuan, Sikap, Lansia, Nyeri, Artritis Rheumatoid.</p> Revi Ainul Mardiah Fitri Novriani Husna Copyright (c) 2026 Jurnal Kesehatan Lentera 'Aisyiyah 2026-09-30 2026-09-30 9 1 48 52 10.58170/jkla.v9i1.285 HUBUNGAN PAPARAN ASAP ROKOK DIDALAM RUMAH DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LUBUK BEGALUNG PADANG https://jurnal.politasumbar.ac.id/index.php/jl/article/view/291 <p>Pneumonia merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian pada balita di dunia, termasuk <br />Indonesia. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2024, kasus pneumonia balita tertinggi <br />terdapat di Puskesmas Lubuk Begalung sebanyak 209 kasus. Salah satu faktor risiko pneumonia pada <br />balita adalah paparan asap rokok di dalam rumah yang dapat merusak saluran pernapasan dan <br />meningkatkan risiko infeksi paru. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan paparan asap rokok <br />dalam rumah dengan kejadian pneumonia pada balita di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Begalung Kota <br />Padang tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross<br />sectional. Jumlah sampel sebanyak 63 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. <br />Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dan data sekunder dari laporan kejadian pneumonia. <br />Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian <br />menunjukkan bahwa 39 balita (61,9%) mengalami pneumonia berulang dan 24 balita (38,1%) <br />mengalami pneumonia satu kali. Hasil uji ChiSquare diperoleh nilai p-value sebesar 0,008 (&lt;0,05), yang <br />menunjukkan adanya hubungan signifikan antara paparan asap rokok dalam rumah dengan kejadian <br />pneumonia pada balita. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa paparan asap rokok dalam rumah <br />berhubungan signifikan dengan kejadian pneumonia pada balita. Keluarga disarankan untuk tidak <br />merokok di dalam rumah guna mengurangi risiko pneumonia pada balita.</p> Linda Handayuni Nilam Tri Agustin Copyright (c) 2026 Jurnal Kesehatan Lentera 'Aisyiyah 2026-09-30 2026-09-30 9 1 53 59 10.58170/jkla.v9i1.291 GAMBARAN KESEHATAN KERJA PEKERJA INDUSTRI GARMEN DI CV. X KABUPATEN KARANGANYAR : AN OCCUPATIONAL HEALTH SURVEILLANCE https://jurnal.politasumbar.ac.id/index.php/jl/article/view/298 <p>Industri garmen merupakan sektor padat karya yang memiliki berbagai faktor risiko kesehatan kerja, <br />seperti paparan debu tekstil, kebisingan, postur kerja statis, dan aktivitas repetitif yang berpotensi <br />menimbulkan penyakit akibat kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan status kesehatan <br />pekerja industri garmen di CV. X Kabupaten Karanganyar melalui pendekatan Occupational Health <br />Surveillance. Penelitian ini menggunakan desain observasional dengan pendekatan cross-sectional. <br />Penelitian dilaksanakan di CV. X Kabupaten Karanganyar pada bulan Juli–Agustus 2026. Sampel <br />penelitian berjumlah 40 pekerja produksi yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Pemeriksaan <br />kesehatan meliputi pengukuran tekanan darah, indeks massa tubuh, spirometri, dan audiometri. Analisis <br />data dilakukan secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian Mayoritas pekerja <br />berusia ≤34 tahun (52,5%) dan memiliki masa kerja &gt;2 tahun (62,5%). Seluruh responden memiliki IMT <br />kategori normal (100,0%). Sebanyak 65,0% pekerja memiliki tekanan darah normal, sedangkan 35,0% <br />mengalami peningkatan tekanan darah mulai dari kategori elevated hingga hypertensive crisis. <br />Pemeriksaan spirometri menunjukkan bahwa 87,5% pekerja mengalami gangguan fungsi paru dengan <br />dominasi restriksi sedang (50,0%). Pemeriksaan audiometri menunjukkan gangguan pendengaran pada <br />telinga kanan berupa tuli ringan (45,0%) dan tuli sedang (2,5%), sedangkan pada telinga kiri ditemukan <br />tuli ringan (22,0%), tuli sedang (4,9%), dan tuli sedang–berat (2,4%). Hasil Occupational Health <br />Surveillance menunjukkan bahwa pekerja industri garmen memiliki prevalensi gangguan fungsi paru dan gangguan pendengaran yang cukup tinggi meskipun sebagian besar memiliki status gizi dan tekanan <br />darah yang normal. </p> JIhan Faradisha Warda Yussy Rha Ratna Fajariani Rizqy Kartika Sari Afrian Eskartya Harjono Copyright (c) 2026 Jurnal Kesehatan Lentera 'Aisyiyah 2026-09-30 2026-09-30 9 1 60 69 10.58170/jkla.v9i1.298 FAKTOR PERSONAL DAN PEKERJAAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN KELELAHAN KERJA PADA PEGAWAI RUMAH SAKIT: AN OCCUPATIONAL HEALTH SURVEILLANCE https://jurnal.politasumbar.ac.id/index.php/jl/article/view/299 <p>Kelelahan kerja merupakan salah satu masalah kesehatan kerja yang dapat menurunkan kapasitas fisik<br />dan mental pekerja serta berpotensi memengaruhi keselamatan dan kualitas pelayanan. Penelitian ini<br />bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor personal dan faktor terkait pekerjaan dengan kelelahan<br />kerja pada karyawan rumah sakit. Penelitian menggunakan desain kuantitatif observasional dengan<br />pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di Rumah Sakit Umum ‘Aisyiyah Padang pada<br />Maret–Mei 2024 dengan populasi sebanyak 124 karyawan. Sebanyak 55 responden dipilih<br />menggunakan teknik stratified random sampling. Kelelahan kerja diukur menggunakan Industrial<br />Fatigue Rating Scale Questionnaire (IFRSQ), sedangkan analisis hubungan antar variabel dilakukan<br />menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia<br />&lt;40 tahun (81,8%), berjenis kelamin perempuan (89,1%), memiliki masa kerja 0–10 tahun (80,0%),<br />memiliki beban kerja berat (61,8%), dan menilai lingkungan kerja dalam kategori kurang baik (56,4%).<br />Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia (p=0,483), jenis kelamin (p=0,050), masa kerja<br />(p=0,567), dan beban kerja (p=0,834) dengan kelelahan kerja. Sebaliknya, terdapat hubungan yang<br />signifikan antara lingkungan kerja dan kelelahan kerja (p=0,035). Responden yang bekerja pada<br />lingkungan kerja kurang baik memiliki proporsi kelelahan lebih tinggi dibandingkan responden dengan<br />lingkungan kerja baik (48,4% vs 20,8%). Temuan ini menunjukkan bahwa pengendalian kondisi<br />lingkungan kerja dan pemantauan kualitas tidur perlu menjadi bagian dari strategi occupational health<br />surveillance untuk mencegah dan mengendalikan kelelahan kerja pada karyawan rumah sakit.</p> JIhan Faradisha Fluorina Oryza Muslim Astrina Aulia Copyright (c) 2026 Jurnal Kesehatan Lentera 'Aisyiyah 2026-09-30 2026-09-30 9 1 70 81 10.58170/jkla.v9i1.299 GAMBARAN PELAKSANAAN PROGRAM KESELAMATAN KERJA PADA KARYAWAN BAGIAN PRODUKSI FURNITURE MAKASSAR https://jurnal.politasumbar.ac.id/index.php/jl/article/view/320 <p>Program keselamatan kerja diperlukan untuk melindungi pekerja dari berbagai bahaya di tempat kerja, <br />terutama pada industri furniture yang menggunakan mesin dan peralatan produksi. Penelitian ini <br />bertujuan untuk menggambarkan pelaksanaan program keselamatan kerja pada karyawan bagian <br />produksi PT Maruki International Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain observasional <br />deskriptif dan dilaksanakan pada 1–23 Juli 2019 di PT Maruki International Indonesia, Kawasan Industri <br />Makassar. Populasi penelitian sebanyak 204 pekerja bagian produksi dengan sampel 67 pekerja yang <br />dipilih menggunakan proportionate stratified random sampling dan simple random sampling. Data <br />diperoleh melalui kuesioner, observasi langsung, dan telaah dokumen, kemudian dianalisis secara <br />deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Sebanyak 60 responden (89,6%) memiliki <br />pengetahuan keselamatan kerja dan 53 responden (79,1%) telah mengikuti pelatihan K3. APD tersedia <br />menurut 38 responden (56,7%), sedangkan 29 responden (43,3%) menyatakan APD tidak tersedia. <br />Sebanyak 48 responden (71,6%) menyatakan alat pelindung mesin (APM) tidak tersedia, sedangkan 19 <br />responden (28,4%) menyatakan tersedia. Pelaksanaan program keselamatan kerja telah dilakukan, <br />terutama dalam aspek pengetahuan dan pelatihan K3. Namun, ketersediaan APD dan khususnya APM <br />masih perlu diperkuat melalui penyediaan berbasis risiko, pengamanan mesin, inspeksi berkala, <br />pelatihan, dan pengawasan K3.</p> Rizky Maharja Ade Wira Lisrianti Latief Irhamuddin Yusniar Anggraeni Nurul Pratiwi Army Astaman Sultan JIhan Faradisha Copyright (c) 2026 Jurnal Kesehatan Lentera 'Aisyiyah 2026-09-30 2026-09-30 9 1 82 93 10.58170/jkla.v9i1.320 PENGARUH ANGKA MELEK HURUF DAN AKSES INFORMASI DIGITAL TERHADAP ANGKA PENEMUAN KASUS TUBERKULOSIS DI INDONESIA: ANALISIS DATA 38 PROVINSI TAHUN 2025 https://jurnal.politasumbar.ac.id/index.php/jl/article/view/322 <p>Literasi dasar dan akses informasi digital merupakan bagian penting dalam membentuk kemampuan <br />masyarakat berinteraksi dengan informasi, termasuk informasi kesehatan. Namun, peningkatan akses <br />digital tidak selalu diikuti oleh kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan informasi kesehatan <br />secara efektif. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh Angka Melek Huruf dan Akses <br />Informasi Digital terhadap Angka Penemuan Kasus Tuberkulosis (TBC) di Indonesia. Penelitian <br />menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatori dengan data sekunder pada 38 provinsi di Indonesia <br />tahun 2025. Angka Melek Huruf digunakan sebagai variabel independen pertama (X₁), Akses <br />Informasi Digital sebagai variabel independen kedua (X₂), dan Angka Penemuan Kasus TBC sebagai <br />variabel dependen (Y). Data dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan pengujian <br />pengaruh secara parsial dan simultan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Angka Melek Huruf tidak <br />berpengaruh signifikan terhadap Angka Penemuan Kasus TBC secara parsial dengan nilai signifikansi <br />95 <br /><br />0,827. Akses Informasi Digital juga tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan secara parsial <br />dengan nilai signifikansi 0,228. Namun, secara simultan Angka Melek Huruf dan Akses Informasi <br />Digital berpengaruh signifikan terhadap Angka Penemuan Kasus TBC dengan nilai F sebesar 7,681 <br />dan signifikansi 0,00172. Nilai R² sebesar 0,305 menunjukkan bahwa kedua variabel independen <br />secara bersama-sama menjelaskan 30,5% variasi Angka Penemuan Kasus TBC. Temuan ini <br />menunjukkan bahwa literasi dasar dan akses digital perlu dipahami sebagai bagian dari ekosistem <br />informasi yang berkaitan dengan kesehatan, tetapi bukan sebagai faktor tunggal dalam menjelaskan <br />penemuan kasus TBC. Penelitian ini menegaskan pentingnya pengembangan literasi fungsional dan <br />literasi kesehatan digital yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan membaca, tetapi juga pada <br />kemampuan memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi kesehatan secara tepat. </p> Ahmad Alif Bunayya Ahmad Fajar Sanjaya Else Liliana Elsa Yuniarti Muharika Dewi Copyright (c) 2026 Jurnal Kesehatan Lentera 'Aisyiyah 2026-09-30 2026-09-30 9 1 94 108 10.58170/jkla.v9i1.322 INTERVENSI STATIC STRETCHING UNTUK MENURUNKAN KELUHAN MSDS PADA MAHASISWA PROFESI KEDOKTERAN GIGI https://jurnal.politasumbar.ac.id/index.php/jl/article/view/317 <p>Musculoskeletal Disorders (MSDs) merupakan keluhan yang umum pada mahasiswa pendidikan profesi <br />kedokteran gigi akibat postur statis dan gerakan berulang selama prosedur klinis. Penelitian ini bertujuan <br />menganalisis pengaruh static stretching terhadap keluhan MSDs pada mahasiswa pendidikan profesi <br />kedokteran gigi di RSIGM X Semarang. Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan <br />pendekatan non-equivalent pre-test–post-test control group. Sebanyak 60 mahasiswa dipilih <br />menggunakan purposive sampling dan dibagi menjadi kelompok intervensi (n=30) dan kontrol (n=30). <br />Keluhan MSDs diukur menggunakan Nordic Body Map (NBM). Kelompok intervensi melakukan static <br />stretching selama 5 menit yang terdiri atas sembilan gerakan tubuh bagian atas, dua kali seminggu <br />selama dua minggu. Analisis menggunakan uji Wilcoxon dan Mann–Whitney. Proporsi keluhan MSDs <br />kategori rendah pada kelompok intervensi meningkat dari 43,3% menjadi 70,0%, sedangkan kategori <br />sedang menurun dari 53,3% menjadi 30,0%. Uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan signifikan pre<br />testdan post-test pada kelompok intervensi (p=0,003), tetapi tidak pada kelompok kontrol (p=1,000). <br />Tidak terdapat perbedaan antarkelompok pada pre-test (p=0,622), sedangkan pada post-test terdapat <br />perbedaan signifikan (p=0,009). Static stretching berkaitan dengan perubahan signifikan keluhan MSDs <br />pada mahasiswa pendidikan profesi kedokteran gigi.</p> Adiyani Dea Ulhaq JIhan Faradisha Copyright (c) 2026 Jurnal Kesehatan Lentera 'Aisyiyah 2026-09-30 2026-09-30 9 1 109 120 10.58170/jkla.v9i1.317 Pengaruh Website WISE Terhadap Peningkatan Pengetahuan K3 Pada Pekerja Produksi PT SMU https://jurnal.politasumbar.ac.id/index.php/jl/article/view/312 <p>Proses produksi <em>plywood</em> di PT SMU memiliki potensi bahaya yang tinggi sehingga masih ditemukan kecelakaan kerja ringan maupun berat. Survei awal menunjukkan 70% pekerja memiliki pengetahuan K3 yang rendah, sedangkan program edukasi K3 di perusahaan belum berjalan optimal. Seiring perkembangan teknologi, media edukasi berbasis <em>website</em> dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan pengetahuan K3 karena mudah diakses dan bersifat interaktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh <em>website WISE</em> terhadap peningkatan pengetahuan K3 pada pekerja produksi di PT SMU. Penelitian ini menggunakan <em>quasi experimental design</em> dengan <em>nonequivalent control group design</em>. Populasi penelitian berjumlah 300 pekerja produksi di PT SMU. Sampel penelitian terdiri atas 130 responden yang dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em> yang dibagi menjadi kelompok eksperimen dan kontrol. Pengukuran pengetahuan K3 dilakukan menggunakan kuesioner, dengan analisis data menggunakan uji <em>paired t-test</em> dan <em>independent t-test</em>. Pengetahuan K3 pada kelompok eksperimen meningkat secara signifikan setelah pemberian intervensi (p = 0,001), sedangkan kelompok kontrol tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan (p = 0,058). Hasil analisis juga menunjukkan terdapat perbedaan pengetahuan K3 yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kontrol setelah intervensi (p = 0,001). Maka dapat disimpulkan bahwa, <em>Website WISE</em> berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan K3 pada pekerja produksi di PT SMU.</p> Alya Dwi Suryani Nabylla Sharfina Sekar Nurriwanti Copyright (c) 2026 Jurnal Kesehatan Lentera 'Aisyiyah 2026-09-30 2026-09-30 9 1 121 128 10.58170/jkla.v9i1.312 PROGRAM SAPA RENGGINAN TERHADAP TINGKAT KEPATUHAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA UMKM X https://jurnal.politasumbar.ac.id/index.php/jl/article/view/321 <p>Penerapan K3 sering terkendala oleh keterbatasan pengetahuan, fasilitas, dan kepatuhan. Produksi <br />rengginan memiliki berbagai bahaya, seperti paparan panas, peralatan kerja, lantai licin, aktivitas <br />berulang, dan bahaya ergonomi. Penelitian ini bertujuan menilai perubahan kepatuhan K3 setelah <br />penerapan Program SAPA Rengginan. Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental dengan <br />pendekatan one-group pretest-posttest, melibatkan 25 pekerja UMKM di Kabupaten Jombang yang <br />dipilih melalui total sampling. Intervensi meliputi edukasi K3, pelatihan penggunaan APD, identifikasi <br />bahaya, penerapan prosedur kerja aman, dan pemantauan. Kepatuhan K3 dinilai berdasarkan <br />penggunaan APD, prosedur kerja aman, perilaku keselamatan, serta kebersihan dan keselamatan tempat <br />kerja. Analisis dilakukan dengan membandingkan nilai rata-rata pretest dan posttest. Rata-rata <br />kepatuhan meningkat dari 58 menjadi 82 pada penggunaan APD, 61 menjadi 85 pada prosedur kerja <br />aman, 59 menjadi 84 pada perilaku keselamatan, dan 63 menjadi 86 pada kebersihan dan keselamatan <br />tempat kerja. Peningkatan terbesar terjadi pada perilaku keselamatan, yaitu sebesar 25 poin, dari 59 <br />menjadi 84. Program SAPA Rengginan menunjukkan peningkatan kepatuhan K3 pada seluruh aspek <br />yang dinilai. Integrasi edukasi, pelatihan APD, identifikasi bahaya, penerapan prosedur kerja aman, dan <br />pemantauan dapat mendukung penerapan K3 pada UMKM.</p> Erliana Nur Azizah Jihan Faradisha Rizky Maharja Copyright (c) 2026 Jurnal Kesehatan Lentera 'Aisyiyah 2026-09-30 2026-09-30 9 1 129 135 10.58170/jkla.v9i1.321 HUBUNGAN JENIS KELAMIN DAN MASA KERJA DENGAN DERAJAT GANGGUAN FUNGSI PARU PADA PEKERJA INDUSTRI MANUFAKTUR https://jurnal.politasumbar.ac.id/index.php/jl/article/view/318 <p>Industri pembuatan pakaian memiliki potensi pajanan debu dan serat kain yang dapat menimbulkan gangguan pernapasan pada pekerja. Karakteristik individu dan pekerjaan, seperti jenis kelamin dan masa kerja, diduga berkaitan dengan derajat sesak yang dialami pekerja. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan jenis kelamin dan masa kerja dengan derajat sesak pada pekerja industri pembuatan pakaian. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian sebanyak 50 pekerja, dengan 39 pekerja dipilih sebagai sampel menggunakan purposive sampling. Data jenis kelamin dan masa kerja diperoleh melalui kuesioner, sedangkan derajat sesak dinilai berdasarkan pemeriksaan fungsi paru menggunakan spirometer. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji Chi-Square dan Fisher’s Exact Test dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara jenis kelamin dengan derajat sesak (p&lt;0,001), serta antara masa kerja dengan derajat sesak (p=0,040). Pekerja perempuan lebih banyak mengalami sesak derajat sedang hingga sangat berat, sedangkan pekerja dengan masa kerja ≥5 tahun menunjukkan proporsi sesak sangat berat lebih tinggi. Pengendalian paparan debu dan serat kain, penggunaan alat pelindung pernapasan, perbaikan ventilasi, dan pemeriksaan kesehatan pernapasan secara berkala diperlukan sebagai upaya pencegahan gangguan pernapasan pekerja.</p> Rizqy Kartika Sari Isna Qadrijati Tyas Lilia Wardani Jihan Faradisha Reni Wijayanti Afrian Eskartya Harjono Ayu Prima Kartika Ratna Fajariani Copyright (c) 2026 Jurnal Kesehatan Lentera 'Aisyiyah 2026-09-30 2026-09-30 9 1 136 142 10.58170/jkla.v9i1.318 ANALISIS INDEKS MASSA TUBUH DAN STRES KERJA PADA PEKERJA INDUSTRI MANUFAKTUR DI BOYOLALI https://jurnal.politasumbar.ac.id/index.php/jl/article/view/319 <p>Aktivitas kerja di industri manufaktur pengolahan makanan dengan tuntutan target dan sistem shift <br />berisiko memicu stres kerja serta memengaruhi status gizi pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk <br />menganalisis hubungan antara kategori Indeks Massa Tubuh (IMT) berdasarkan kriteria Survei <br />Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dengan tingkat stres kerja pada pekerja manufaktur pengolahan <br />makanan. Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional ini melibatkan 50 pekerja lini produksi. <br />Data status gizi diperoleh melalui pengukuran antropometri IMT (kategori wasting, normal, overweight, <br />obesitas), sedangkan tingkat stres kerja diukur menggunakan kuesioner DASS-21 subskala stres. Hasil <br />penelitian menunjukkan mayoritas pekerja memiliki IMT normal (68%) dan tingkat stres kerja normal <br />(84%). Hasil analisis statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kategori <br />IMT dengan stres kerja (p=0,590; p&gt;0,05). Nilai Koefisien Kontingensi (0,192) dan Cramer's V (0,196) <br />mengindikasikan keeratan hubungan yang sangat lemah dan bersifat independen. Ketidakberadaan <br />hubungan ini dipengaruhi oleh dominasi sebaran data yang tergolong normal serta adanya faktor koping individu dan aktivitas fisik harian pekerja. Pengelolaan K3 disarankan tetap memisahkan program <br />manajemen stres dan intervensi gizi secara spesifik. </p> Ayu Prima Kartika Isna Qadrijati Jihan Faradisha Rizqy Kartika Sari Afrian Eskartya Harjono Ratna Fajariani Tyas Lilia Wardani Reni Wijayanti Copyright (c) 2026 Jurnal Kesehatan Lentera 'Aisyiyah 2026-09-30 2026-09-30 9 1 143 148 10.58170/jkla.v9i1.319 GAMBARAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) DALAM PENCEGAHAN DIARE PADA SISWA DI SDN 52 KURANJI TAHUN 2026 https://jurnal.politasumbar.ac.id/index.php/jl/article/view/288 <p>Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan salah satu upaya penting dalam pencegahan diare <br />pada anak usia sekolah. Diare masih menjadi masalah kesehatan yang sering terjadi dan berkaitan <br />dengan kebersihan diri serta lingkungan. Rendahnya penerapan PHBS, seperti tidak mencuci tangan <br />dengan sabun, jajan sembarangan, membuang sampah tidak pada tempatnya, dan penggunaan jamban <br />yang kurang bersih dapat meningkatkan risiko terjadinya diare. Penelitian ini bertujuan untuk <br />mengetahui gambaran Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam pencegahan diare pada siswa di <br />SDN 52 Kuranji Tahun 2026.Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif <br />dan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian berjumlah 128 siswa kelas IV, V, dan VI. Sampel <br />sebanyak 56 responden diperoleh menggunakan teknik stratified random sampling. Pengumpulan data <br />dilakukan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa <br />sebagian besar responden memiliki PHBS kategori baik sebanyak 29 orang (51,8%), sedangkan kategori <br />kurang baik sebanyak 27 orang (48,2%). Mayoritas responden berusia 10 dan 11 tahun. Hasil tersebut <br />menunjukkan bahwa lebih dari separuh siswa telah menerapkan PHBS dengan baik dalam upaya <br />pencegahan diare.Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa di SDN 52 Kuranji memiliki PHBS <br />yang baik dalam pencegahan diare. Namun, edukasi dan pembiasaan PHBS tetap perlu ditingkatkan <br />untuk membentuk perilaku sehat yang berkelanjutan serta mendukung terciptanya lingkungan sekolah <br />yang sehat.</p> Elva Sonia Nova Rita Copyright (c) 2026 Jurnal Kesehatan Lentera 'Aisyiyah 2026-09-30 2026-09-30 9 1 149 152 10.58170/jkla.v9i1.288 Pengaruh Pelatihan APAR Terhadap Tingkat Pengetahuan APAR Pada Pekerja Produksi PT Wijaya Kwarta Penta https://jurnal.politasumbar.ac.id/index.php/jl/article/view/325 <p>Pelatihan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) merupakan upaya preventif untuk meningkatkan pengetahuan pekerja dalam pengendalian kebakaran tahap awal di tempat kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pelatihan APAR terhadap tingkat pengetahuan pekerja produksi PT Wijaya Kwarta Penta. Penelitian ini menggunakan desain <em>quasi experimental</em> dengan pendekatan <em>pre-test and post-test control group design</em>. Sampel berjumlah 68 pekerja produksi yang dipilih menggunakan teknik <em>total sampling</em> dan dibagi menjadi kelompok eksperimen (<em>n</em>=34) serta kelompok kontrol (<em>n</em>=34) berdasarkan <em>shift</em> kerja. Kelompok eksperimen diberikan pelatihan APAR, sedangkan kelompok kontrol tidak diberikan intervensi. Pengetahuan diukur menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah intervensi. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon, Mann–Whitney <em>U</em>, dan Cohen’s <em>d</em>. Rerata pengetahuan kelompok eksperimen meningkat dari 54,35 menjadi 70,74, sedangkan kelompok kontrol meningkat dari 53,09 menjadi 55,91. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan peningkatan signifikan pada kelompok eksperimen (<em>p</em>&lt;0,001), tetapi tidak signifikan pada kelompok kontrol (<em>p</em>=0,207). Hasil uji Mann–Whitney <em>U</em> menunjukkan terdapat perbedaan <em>post-test</em> yang signifikan antara kedua kelompok (<em>p</em>&lt;0,001). Nilai Cohen’s <em>d</em> sebesar 0,94 menunjukkan efek besar. Dengan demikian, pelatihan APAR efektif dalam meningkatkan pengetahuan pekerja.</p> Aiysah Nur Istiqomah JIhan Faradisha Copyright (c) 2026 Jurnal Kesehatan Lentera 'Aisyiyah 2026-09-30 2026-09-30 9 1 153 164 10.58170/jkla.v9i1.325