EVALUASI PRAKTIK DISPENSING ANTIBIOTIK PADA PERMINTAAN TANPA RESEP DI APOTEK KOMUNITAS MENGGUNAKAN METODE SIMULATED PATIENT
DOI:
https://doi.org/10.58170/jkla.v9i1.281Keywords:
antibiotik; apotek komunitas; dispensing tanpa resep; pasien simulasi; resistensi antimikroba.Abstract
Penjualan antibiotik tanpa resep dokter merupakan salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap meningkatnya resistensi antimikroba, terutama di negara berpendapatan rendah dan menengah, termasuk Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proporsi, pola, dan kelengkapan praktik penyerahan antibiotik tanpa resep dokter di apotek komunitas Kota Batam serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mendorong praktik tersebut berdasarkan perspektif tenaga kefarmasian. Studi observasional dengan desain potong lintang (cross-sectional) dilakukan pada Maret–Mei 2026 menggunakan metode simulated patient di 74 apotek komunitas berizin yang dipilih melalui systematic random sampling. Skenario yang digunakan berupa permintaan langsung amoksisilin untuk keluhan infeksi saluran pernapasan akut. Data dianalisis secara deskriptif, sedangkan hubungan antarvariabel diuji menggunakan uji chi-square. Dari 74 apotek yang dikunjungi, 33 apotek (44,6%) menyerahkan antibiotik tanpa resep dokter. Amoksisilin kapsul merupakan antibiotik yang paling sering didispensasikan, diikuti oleh sefadroksil kapsul dan sirup, sefiksim 100 mg kapsul, siprofloksasin 500 mg tablet, serta azitromisin 500 mg tablet. Konseling mengenai aturan pakai diberikan pada 81,8% kasus, namun informasi mengenai durasi pengobatan lengkap (27,3%), efek samping (12,1%), dan risiko resistensi antimikroba (6,1%) masih sangat jarang disampaikan. Berdasarkan perspektif tenaga kefarmasian, faktor utama yang mendorong praktik tersebut meliputi permintaan pasien yang persisten, persaingan antar apotek, target finansial pemilik apotek, serta lemahnya penegakan regulasi. Penyerahan antibiotik tanpa resep dokter masih menjadi praktik yang umum di apotek komunitas Kota Batam dan disertai dengan kualitas konseling yang belum memadai.









