ANALISIS INDEKS MASSA TUBUH DAN STRES KERJA PADA PEKERJA INDUSTRI MANUFAKTUR DI BOYOLALI
DOI:
https://doi.org/10.58170/jkla.v9i1.319Abstract
Aktivitas kerja di industri manufaktur pengolahan makanan dengan tuntutan target dan sistem shift
berisiko memicu stres kerja serta memengaruhi status gizi pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis hubungan antara kategori Indeks Massa Tubuh (IMT) berdasarkan kriteria Survei
Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dengan tingkat stres kerja pada pekerja manufaktur pengolahan
makanan. Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional ini melibatkan 50 pekerja lini produksi.
Data status gizi diperoleh melalui pengukuran antropometri IMT (kategori wasting, normal, overweight,
obesitas), sedangkan tingkat stres kerja diukur menggunakan kuesioner DASS-21 subskala stres. Hasil
penelitian menunjukkan mayoritas pekerja memiliki IMT normal (68%) dan tingkat stres kerja normal
(84%). Hasil analisis statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kategori
IMT dengan stres kerja (p=0,590; p>0,05). Nilai Koefisien Kontingensi (0,192) dan Cramer's V (0,196)
mengindikasikan keeratan hubungan yang sangat lemah dan bersifat independen. Ketidakberadaan
hubungan ini dipengaruhi oleh dominasi sebaran data yang tergolong normal serta adanya faktor koping individu dan aktivitas fisik harian pekerja. Pengelolaan K3 disarankan tetap memisahkan program
manajemen stres dan intervensi gizi secara spesifik.









